Rabu, 29 Juli 2015

Table Unmanner


    Beberapa hari lalu saya makan malam dengan salah satu sahabat saya, Kiki namanya. Kami makan chinese food, kami pesan cumi saus mentega dan capcay goreng. Kami berdua makan dengan lahap dannnn, tentu saja tandas. Yang bersih licin piringku sih, kalo punya Kiki, masih ada kuahnya. Kemudian Kiki melirik meja di sebelah kami, yang makan di sana pasangan cowok cewek, mereka gak tau pesan apa yang jelas waktu mereka meninggalkan meja, makanannya sisa sedikit. Kiki langsung berkomentar, "Kok kita makannya bersih ya (saya tau dia nyindir saya)", orang-orang padahal masih ada sisanya. Saya jawab, "Lah yo mbok ben, wong aq bayar kok, justru itu tandanya kita menghargai makanan, gak mernyia-nyiakan, gak mubazir, mungkin mereka kenyang, nek aku masih sanggup menghabiskan kok, ya aku habiskan". Kiki: "Oh, iyo, bener-bener". Sebenarnya saya tau banget, kalo Kiki agak meng-underestimate orang-orang yang menghabiskan makannya sampai piringnya licin, Kiki bilang orang-orang macam saya rakus dan memalukan. Gak tau dia dapat theorema itu dari mana. Karena menurut saya pribadi, menyisakan makanan bukan sekedar mubazir, tetapi semacam menyia-nyiakan atau pemborosan terhadap proses produksi. Kok bisa? Sekarang coba deh kalian pikirkan, proses produksi makanan itu melalui tahapan-tahapan panjang dan tidak mudah. Contoh saja nasi. Nasi asalnya dari beras. Beras berasal dari pembibitan, ditanam dengan susah payah oleh para petani. Mereka mengolah tanah dari pagi hingga sore sebelum siap ditanami padi. kemudian dengan sabar menancapkan benih-benihnya. Memberi pupuk, menjaga dari hama dan rumput-rumput pengganggu. Kemudian memanen, mengupas kulitnya hingga jadi beras yang putih. Begitu juga capcay goreng yang isinya sayur-sayuran. Semua sayur tersebut dihasilkan dari benih kecil, ditanam, dipupuk agar tumbuh subur, disirami, disiangi, sampai akhirnya siap untuk dipanen, dan akhirnya jadi sayuran segar yang siap dikonsumsi. Semua proses dilakukan menggunakan energi loh, gak sim salabim cling jadi beras trus dimasak jadi nasi. Kalau ingat itu, apa kalian gak sayang ketika makan trus sisa dan dibuang gitu aja?
Bahkan di Jerman negara yang lebih maju dari Indonesia, menyisakan makanan berarti denda sekitar 800rb. Kenapa? karena bagi mereka supply makanan (sumber daya) adalah milik masyarakat.
     Menurut saya, justru kebiasaan menyisakan makanan adalah buruk dan primitif. Kebiasaan ini harus kita rubah. Kebayang gak kalau kita selalu menyisakan satu makanan terakhir atau satu sendok makanan di atas piring, sehari kita sisain satu gorengan, satu sate, satu martabak, satu roti, satu sendok mi, nasi goreng dsb, bayangin coba setahun berapa makanan yang kita buang? Itu baru dihitung dari satu orang, kalau 10 orang punya kebiasaan seperti itu? Kebayang kan betapa sia-sianya, berapa banyak makanan yang terbuang. Padahal di dunia ini masih banyak orang-orang yang membutuhkan makanan. Seperti, saudara-saudara kita di Afrika contohnya, atau saudara-saudara kita yang hidupnya menggelandang gak punya rumah, makan aja sulit. 
     Lebih dari itu, menghabiskan makanan mengajarkan banyak nilai, menghargai makanan, tanggung jawab, tidak serakah, dan hidup dalam sebuah keprihatinan, mengingat banyak orang di dunia yang masih kekurangan makanan. dan ternyata...Nabi kita yang mulia SAW, selalu menghabiskan makanan beliau, bahkan sampai menjilati jari-jarinya. Demi apa? Demi mendapatkan berkah dari makanan itu. Jadi dengan menghabiskan makanan yang tersaji di depan kita, kita sebenarnya mendapat 2 keuntungan. Pertama, mendapat pahala karena mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, mendapat berkah dari makanan yang kita makan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar